Jumat, 26 Maret 2010

abin 2

pengantar:
pupi sedang malas bermain. pupi sedang lapar. ia ingin makan sesuatu.
tahukah kamu apa yang diinginkannya? coba kau hubungkan titik-titik
sesuai dengan urutan bilangan.

Minggu, 21 Maret 2010

Kamis, 18 Maret 2010

Rabu, 17 Maret 2010

Selasa, 02 Maret 2010

jose rizal

asmirandah

PERCIKAN

Bantal yang adil

  Arin dan Winda adalah saudara yang selalu rukun dan kompak. Mereka selalu bermain bersama, berbagi apapun yang mereka punya dan belajar selalu bersama, Ibu selalu memberikan apapun yang sama untuk mereka.

Dua hari berlalu, semenjak Ibu membelikan bantal cantik hadiah ulang tahun untuk Arin. Sikap Winda berubah, menjadi pendiam dan lebih suka sendiri. tidak seperti biasanya setiap hari libur Winda selalu bermain dengan Arin, pergi ke taman pun selalu bersama. Winda merasa Ibunya lebih menyayangi Arin daripada dirinya, karena membelikan hadiah ulang tahun yang lebih besar dan lebih indah.

Arin memamerkan hadiah ulang tahunnya di hadapan Winda

"Bantal hadiah Arin bagus, kan Kak?"

Winda menjadi tambah sebel teringat saat ulang tahunnya dulu. Mula-mula ia sangat senang dengan kado yang diberikan Ibunya. Kado berupa bantal cantik untuk teman tidurnya, karena ia berpikir kado yang akan diberikan saat ulang tahun Arin pasti akan sama dengan kado yang diberikan padanya. Karena selama ini, Ibu selalu memberikan kado yang hampir sama. Namun, kali ini berbeda dengan biasanya, kado ulang tahun Arin lebih indah dari kado yang diberikan Ibunya dulu, ukurannya jauh lebih besar, bentuknya pun sangat indah, ia juga tidak mendapat tas cantik seperti yang Ayah janjikan kepada Arin. Winda merasa sangat kesal, sehingga hanya diam ketika Arin mengajak bermain, ketika Arin kesusahan mengerjakan PR pun tak seperti biasanya selalu membantu dan mengajarinya dengan sabar.

"Kak, Arin tidak bisa mengerjakan soal nomor tiga."

"Kakak lagi sibuk, Arin belajar sendiri saja," jawab Winda dengan muka cemberut.

Hingga satu minggu berlalu, sikap Winda masih sama, wajahnya terlihat muram. Saat makan malam Winda hanya diam, tak seperti biasanya yang selalu ceria dan banyak komentar dengan sikap adiknya yang jail.

"Bu Kak Winda kenapa? Kok sekarang tidak mau bantu Arin mengerjakan PR?" tanya Arin

"Mungkin Kak Winda capek," jawab Ibu dengan lembut.

"Tapi Kak Winda juga tidak mau diajak main di taman dan jadi pendiam."

"Ya sudah nanti Ibu tanya sama Kak Winda."

***

Keesokan harinya, Ibu mendekati Winda yang sedang asyik membaca buku cerita. Melihat kedatangan Ibu Winda hanya diam pura-pura tidak tahu. Ia masih sebel dengan Ibunya.

"Winda kenapa kamu akhir-akhir ini kok murung," tanya Ibu dengan lembut.

"Winda benci sama Ibu! Kenapa Ibu dan Ayah lebih menyayangi Arin daripada Winda?"

"Ibu sangat menyayangi kalian berdua, karena kalian adalah harta Ibu."

"Tapi kenapa membelikan hadiah ulang tahun lebih besar buat Arin?" tanya Winda kesal,

Setelah mengetahui alasan kemarahan Winda, Ibu menyuruh Arin untuk menukar bantalnya dengan bantal Kak Winda. Setelah Winda memakai bantal hadiah ulang tahun Arin yang lebih indah dan besar mula-mulanya ia sangat senang, karena keinginannya tercapai.

Pada pagi harinya saat ia bangun tidur kepalanya terasa pegal-pegal dan pusing. Karena semalam suntuk ia tertidur dengan posisi tidak nyaman. Karena bantalnya lebih besar dari ukuran kepalanya. Lalu ia mengembalikan bantalnya pada Arin, sekarang ia mengerti kalau Ibu juga sangat menyayanginya. Ibu memberikan hadiah sesuai ukurannya. Dari bantal itulah Winda bisa belajar keadilan bahwa suatu yang adil tidaklah harus sama rata tapi sesuai kebutuhan kita. -

DONGENG COVER

Anak Penggembala dan Serigala

Seorang anak gembala selalu menggembalakan domba milik tuannya dekat suatu hutan yang gelap dan tidak jauh dari kampungnya. Karena mulai merasa bosan tinggal di daerah peternakan, dia selalu menghibur dirinya sendiri dengan cara bermain-main dengan anjingnya dan memainkan serulingnya.

Suatu hari ketika dia menggembalakan dombanya di dekat hutan, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya apabila dia melihat serigala, dia merasa terhibur dengan memikirkan berbagai macam rencana.

Tuannya pernah berkata bahwa apabila dia melihat serigala menyerang kawanan dombanya, dia harus berteriak memanggil bantuan, dan orang-orang sekampung akan datang membantunya. Anak gembala itu berpikir bahwa akan terasa lucu apabila dia pura-pura melihat serigala dan berteriak memanggil orang sekampungnya datang untuk membantunya. Dan anak gembala itu sekarang walaupun tidak melihat seekor serigala pun, dia berpura-pura lari ke arah kampungnya dan berteriak sekeras-kerasnya, "Serigala, serigala!"

Seperti yang dia duga, orang-orang kampung yang mendengarnya berteriak, cepat-cepat meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari ke arah anak gembala tersebut untuk membantunya. Tetapi yang mereka temukan adalah anak gembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang-orang sekampung.

Beberapa hari kemudian, anak gembala itu kembali berteriak, "Serigala! serigala!", kembali orang-orang kampung yang berlari datang untuk menolongnya, hanya menemukan anak gembala yang tertawa terbahak-bahak kembali.

Pada suatu sore ketika matahari mulai terbenam, seekor serigala benar-benar datang dan menyambar domba yang digembalakan oleh anak gembala tersebut.

Dalam ketakutannya, anak gembala itu berlari ke arah kampung dan berteriak, "Serigala! serigala!" Tetapi walaupun orang-orang sekampung mendengarnya berteriak, mereka tidak datang untuk membantunya. "Dia tidak akan bisa menipu kita lagi," kata mereka.

Serigala itu akhirnya berhasil menerkam dan memakan banyak domba yang digembalakan oleh sang anak gembala, lalu berlari masuk ke dalam hutan kembali.

Pembohong tidak akan pernah di percayai lagi, walaupun saat itu mereka berkata benar.

KABAR ARTIS

Asmirandah
Kangen Syuting Sinetron


Senin, 1 Maret 2010
Sudah cukup lama vakum dari kegiatan syuting membuat Asmirandah merasa kangen suasana syuting sinetron stripping. "Ya, rasanya udah cukup lama juga tidak syuting, kangen rasanya berada bersama teman-teman di lokasi syuting," kata Asmirandah.

Ke mana saja selama ini? Bintang sinetron ini mengaku lagi konsentrasi kuliah. Asmirandah adalah mahasiswa Next Academy semester 6.

"Aku sekarang lagi memprioritaskan pendidikan. Pendidikan lebih utama, tapi sekarang juga masih banyak liburannya," ujar Asmirandah, yang kini siap-siap menyelesaikan sinetron barunya.

Asmirandah memang punya tekad menyelesaikan kuliah S1-nya. Ke depannya, Ia berencana kuliah di luar negeri. "Pengen warna lain aja, dan pengen bandingin aja yang di dalam sama di luar (negeri)," ujarnya.

Meskipun prioritasnya menyelesaikan pendidikan, namun bukan berarti Asmirandah vakum sama sekali dari dunia akting. Ia hanya membatasi mengambil satu judul sinetron di tiap tahunnya, dan itu bukan suatu kesengajaan. "Alhamdulillah, itu memang rezeki aku," ujarnya.

Dara ayu kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1989, ini mulai dikenal namanya lewat aktingnya di sinetron Inikah Rasanya?. Gadis yang akrab disapa Andah ini tak hanya mahir berakting, tapi juga merambah dunia menyanyi. (Laurentius Chen)
 
Jose Rizal Manua
Tonjolkan Potensi Seni Anak-Anak


Kamis, 25 Februari 2010
Kenapa anak-anak sekarang mudah protes dengan sikap keras dan kasar? Kenapa anak-anak sekarang suka tak peduli lagi dengan sikap hormat kepada orangtua, bahkan cenderung makin melupakan sikap sopan santun?

Sutradara kondang Jose Rizal Manua mengatakan, kenyataan seperti itu tidak tertutup kemungkinan merupakan cermin dari kekeliruan para orangtua kita dulu yang suka tidak memedulikan potensi anak-anaknya. "Padahal potensi anak-anak itu jika ditonjolkan, yang nantinya akan ikut gembira melihatnya bukan anak-anak itu saja, melainkan orangtuanya, guru-gurunya, juga semua kalangan. Jadi, jangan heran kalau melihat maraknya anak-anak sekarang berontak dengan beragam cara, antara lain karena potensi yang dimilikinya tidak diarahkan dengan benar," ujar Jose kepada Suara Karya di Jakarta, kemarin.

Berkait dengan kenyataan itu, dalam rangka menonjolkan potensi anak-anak Indonesia dalam bidang seni teater, sutradrara kelahiran Padang, 14 September 1954, yang telah melanglang buana bersama Teater Tanah Air, ini mengumpulkan banyak anak di Jakarta, lalu dibina kemampuannya berteater. Ternyata gagasan Jose itu berhasil. Kini sudah ratusan anak didiknya memahami dunia teater. Bahkan, melalui teater, anak didik Jose mengaku malu melihat rekan-rekannya jika bersikap kasar dan tidak santun. Teater ternyata bisa mengarahkan anak menjadi anak yang santun.

Gagasan Jose juga ini disambut baik oleh pemerintah pusat dan bahkan oleh berbagai badan dunia yang membina potensi anak-anak. Pada 8-9 Mei mendatang, bersama teater binaannya, Jose akan memanggungkan potensi anak-anak berteater di Graha Bhakti Budaya, Jakarta. Sedangkan pada 18-25 Juni akan manggung di ajang World Festival of Childrens Theatre Lingen (EMS) Jerman. (Ami Herman

KABAR

JAKARTA--MI: Sosok presiden negara adi daya Barack Obama memberikan inspirasi bagi sejumlah pihak. Pemimpin yang pernah hidup dan mengecap pendidikan di Jakarta ini pun meninggalkan bekas yang cukup mendalam bagi guru, teman, bahkan bagi siswa yang saat ini sedang menuntut ilmu di SD Katolik Asisi.

Barack Obama atau yang dulu dikenal dengan nama Barry Soetoro memang pernah bersekolah di Ibu Kota. Namun, tidak banyak yang tahu SD Asisi yang terletak di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, adalah tempat Barry pertama kali bersekolah. Ia menjalani pendidikan kelas satu hingga kelas tiga di SD Asisi pada tahun 1968-1970.

"Pendidikan dan pembentukan karakter Obama berawal dari sini. Pendidikan setiap anak yang sangat menentukan adalah pada saat ia duduk di kelas satu hingga tiga SD. Karena pada tingkat tersebut mereka baru belajar menulis, membaca, dan bergaul," jelas Yustina, Kepala Sekolah SD Asisi kepada Media Indonesia, Rabu (24/2).

Keberadaan Barry di Asisi dikuatkan oleh memori tiga guru yang juga hadir pada konferensi pers yang diadakan oleh sekolah Asisi. Israela Pareira yang mengajar Barry di kelas satu SD menggambarkan sosok Presiden Amerika Serikat ini sebagai anak yang cukup menonjol, baik dari segi fisik dan perilaku. "Barry selalu ke sekolah dengan berpakaian rapi. Ia berbeda dengan anak-anak lain. Anaknya besar, hitam, rambut keriting," tutur guru yang akrab dipanggil Bu Is ini. Ia juga menggambarkan sosok Barry yang cepat beradaptasi walau tidak bisa berbahasa Indonesia dan kebiasaannya yang suka menolong.

Hal serupa juga dituturkan oleh Cecilia Sugini, guru Barry yang mengajarnya di kelas dua, dan Fermina Sinaga yang mengajar Barry di kelas tiga. "Karakter kepemimpinannya sudah terlihat sejak awal. Barry selalu berinisiatif mengatur barisan sebelum murid-murid masuk ke kelas," Cecilia mengupas kembali ingatannya tentang Obama.

Beberapa teman main juga turut menuturkan pengalaman menarik mereka saat bersama Barry kecil. Dara

KABAR

Razia Satpol PP Telan Korban Pengamen

cemopakaputih. Warta Kota

Diduga menghindari kejaran aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang melakukan razia, dua pengamen Jalanan yakni Muhamad Faisal (17) dan Rini (12) tertabrak truk bermuatan tanah di Jalan Ahmad Yani, Cempaka Putih. Jakarta Pusat. Senin (1/3) sekitar pukul 10.30. Faisal tewas seketika dengan kepala remuk, sedangkan Rini mengalami luka berat di kepala serta punggung dan langsung dilarikan ke RS Kartika.

Dari identitas yang ada di kantong celananya diketahui Faisal adalah warga Desa Kamasan, RT 04/05. Banjaran, Bandung, Jawa Barat. Sopir truk bernama Asep (35) dan kernetnya, Sapuji (29) Juga mengalami luka serius karena truk yang mereka kendarai terguling setelah menabrak pembatas Jalan saat berusaha menghindari kedua pengamen yang tiba-tiba menyeberang Jalan Itu. Keduanya sempat tergencet di dalam ruang kemudi truk sekitar 15 menit sebelum akhirnya berhasil dievakuasi dan dilarikan ke RS Pertamina Jaya, Cempakaputih. Jakarta Pusat.

Menurut Ida (22). saksi mata, truk bermuatan tanah bernomor polisi B 9830 MF itu sudah membanting setir menghindar dari kedua pengamen yang berlari melintas di depan mereka. Namun truk itu tetap menyeruduk dua pengamen Jalanan yang berlari ketakutan menghindari razia Satpol PP itu.Firman (26), pengendara motor yang saat kejadian sedang melintas, mengatakan saat itu ia melihat puluhan pengamen Jalanan berlarian dl bawah Jalan tol dari Tanjungpriok ke arah Cawang."Saya sedang naik motor ke arah Tanjungpriok saat enam pengamen berlarian karena dikejar mobil Satpol PP. saya lalu berhenti." katanya.

Menurut Firman, ketika para pengamen lainnya terus berlari. dua orang pengamen Jitu berusaha menyeberang Jalan. Rupanya mereka tidak melihat kalau ada truk tanah yang bermuatan penuh dan melaju kencang di sebelah kanan, keduanya pun tertabrak." katanya. Firman mengatakan, di dalam kendaraan yang mengejar para pengamen hanya terlihat dua personel Satpol PP saja.Razia yang menelan korban Jiwa Itu diduga dilakukan anggota Satpol PP dari wilayah Jakarta Pusat. Namun Kepala Kantor Satpol PP Jakarta Pusat Idris Priatna membantahnya. "Kami konsentrasi membantu pengamanan demo yang katanya besar-besaran." tuturnya, (bam)

KABAR MARET

Demi Ujian Sekolah, Akta Kelahiran Pun Diubah

Rabu, 3 Maret 2010 | 04:54 WIB

Pesan kepala sekolah hari Senin (22/2) itu masih terngiang-ngiang di kepala Dina Wahyuni (10). Sisa-sisa kesedihan masih menyelimuti hati bocah berparas elok itu.

Pukul 05.30 Wita Rabu (24/2), siswi SD Katolik Ende 6, di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, itu sudah bersiap ke sekolah. Dia menghadapi tryout mata pelajaran Matematika. Dia bersiap di kamarnya yang beratap tripleks dan lantai plesteran semen yang banyak terkelupas.

Setiba di sekolahnya yang tepat berada di depan rumahnya, anak bungsu pasangan Suwito (47) dan Sulistiani (38) itu langsung mengurus air cuci tangan dan menyapu halaman sekolah bersama teman-temannya. Hatinya agak terhibur.

Dia sempat galau lantaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Ende tak mengizinkannya ikut ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN), 4-6 Mei.

Bocah kelahiran 27 April 2000 itu dinyatakan tidak memenuhi syarat sebab belum berusia 11 tahun, yang menjadi syarat peserta UASBN.

Dia terguncang ketika dipanggil Kepala SDK Ende 6 Martha Sani yang menyampaikan dia tak bisa ikut UASBN, bahkan mesti duduk di kelas empat atau lima. Dina akan bisa ikut ujian, tetapi harus mengubah tahun kelahiran di akta kelahirannya.

"Secara fisik dia mampu, malah secara akademik lebih unggul dari siswa lain. Dia hanya terganjal umur. Mestinya pemerintah jangan menghambat anak cerdas seperti ini," kata Martha.

Wali Kelas VI SDK Ende 6 Maria Ana Dema merasa kasihan jika Dina mesti tinggal di kelas empat atau lima sebab ia adalah pelajar yang pandai dan cerdas. Dia peringkat pertama dari kelas satu hingga enam.

Usia 4,5 tahun

Dina masuk sekolah saat berusia 4,5 tahun karena dia memang ingin masuk SD, bukan TK. Ayah Dina yang berpendidikan hingga kelas tiga SD kini berjualan es kelapa muda dan cendol di Pasar Mbongawani, Ende. Ibunya, Sulistiani, berjualan gado-gado dan bakso di depan Puskesmas Kotaratu, Ende.

"Terpaksa kami mengikuti syarat yang diminta daripada Dina tidak bisa ikut ujian. Kasihan dia. Saya sudah urus semua syarat administrasi. Pihak sekolah yang mengurus pengubahan aktanya," kata Sulistiani.

Untuk mengubah akta kelahiran, pihak sekolah mengurus ke Dinas Pendaftaran Penduduk Kabupaten Ende. Diperkirakan akhir Februari akta itu jadi.

Pengajar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Unflor) Ende Umar Ibnu Alkhatab menyatakan keprihatinannya atas kasus ini.

"Di Amerika, anak usia 15 tahun kalau memang kemampuan intelektualnya tinggi dapat masuk perguruan tinggi. Ini, kan, untuk ujian akhir SD saja. Saya kira tidak perlu dihambat. Kalau sampai mengubah akta kelahiran, sama saja manipulasi umur yang dilegalkan. Secara psikis itu kurang baik bagi si anak. Sistem pendidikan seperti ini juga berarti mengajarkan korupsi. Lalu mau dibawa ke mana pendidikan kita jika mentalitas anak dibangun dengan cara manipulatif," kata Umar.

"Pemerintah sebaiknya mengapresiasi pelajar berbakat seperti Dina. Anggap saja siswa akselerasi. Kalau kemudian dia malah tidak boleh ikut ujian karena alasan umur, itu sama saja pemerintah membatasi hak dia untuk mendapat pendidikan," kata magister sosiologi Universitas Indonesia itu.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ende Yeremias Bore menyatakan, ketika biodata Dina dimasukkan ke dalam database peserta UASBN, pengisian tahun kelahiran Dina ditolak sistem.

"Sistem pendataan di komputer diprogram sedemikian rupa. Ketika dimasukkan kelahiran tahun 2000, yang muncul angka nol," kata Yeremias.

"Pelajar berbakat seperti Dina memang bisa diikutkan dalam program akselerasi, tapi masalahnya di Ende tidak ada sekolah akselerasi," tambahnya.

Dalam kasus ini kebijakan pemerintah di bidang pendidikan terkesan membingungkan. Di satu sisi siswa didorong berprestasi setinggi mungkin, tapi di sisi lain hanya karena soal umur malah terhambat. Bukankah pemerintah mestinya justru bangga dan terus mendorong siswa berbakat sebagai mutiara dan aset masa depan bangsa?

Solusi dengan mengubah akta kelahiran apakah sudah diperhitungkan akibatnya kemudian? Bagaimana jika sosok Dina, 25 atau 30 tahun ke depan, terkait akta kelahiran atau ijazahnya digugat secara hukum. Siapa yang mesti bertanggung jawab? (Samuel Oktora)