Kamis, 31 Desember 2009

CERPEN PEBRUARI

Sepatu Baru Niko

Oleh: T. Sandi Situmorang

DI bawah pohon asam, di pinggiran jalan, Niko duduk bersandar. Ada
lembam biru di bawah mata sebelah kirinya. Meski tidak begitu sakit,
tapi masih terasa nyeri juga. Sesekali Niko menghela napas sambil
menatap kendaraan yang lalu lalang di depannya.

Matahari memanggang, tepat di atas ubun-ubun. Tetapi Niko tidak merasa
panas karena sedang berteduh di bawah pohon asam rimbun. Niko belum
ingin pulang. Dia tidak mau melihat wajah Tasya sedih kalau ia tahu
Niko tidak jadi membelikannya sepatu baru.

"Dari mana aku bisa mendapatkan uang lagi?" tanya Niko dalam hati.

Di depannya berhenti sebuah mobil mewah. Seorang lelaki sebaya ayahnya
turun dari dalam. Lalu masuk ke dalam sebuah toko kue. Niko
memperhatikan lelaki itu sambil berandai-andai, andai saja lelaki itu
adalah ayahnya, pasti hidupnya tidak sepahit sekarang ini.

Tidak lama lelaki itu keluar dari dalam toko, menenteng kantongan
plastik berisi kue-kue. Ketika akan masuk ke dalam mobil, Niko melihat
sesuatu terjatuh dari saku celananya.

"Om! Om! Ada yang jatuh, tuh!" teriak Niko dari tempatnya duduk sambil
menunjuk-nunjuk.

Lelaki itu menoleh pada Niko dan mengambil sesuatu yang terjatuh itu.
Ia berjalan mendekati Niko.

"Terima kasih, ya! Kalau tidak, pasti Om sudah kehilangan hape ini."

"Sama-sama, Om," sahut Niko dan membalas senyum ramah lelaki itu.

"Kenapa wajahmu itu?"

"Dipukul orang, Om."

"Dipukul bagaimana?"

"Dipukul sama preman-preman di dekat pasar. Tadi mereka meminta paksa
uang hasil penjualan barang bekasku. Karena aku nggak mau, mereka
memukulku dan merampas uang itu."

"Kasihan sekali kamu, seharusnya kamu kasih saja. Daripada kamu
dipukul seperti ini."

"Aku sudah janji sama adikku, uang itu akan aku belikan sepatu buat
dia. Dia belum punya sepatu, tahun ini dia mulai masuk sekolah."

Lelaki itu menatap Niko dengan lekat. Dia kagum dengan Niko, masih
kecil tapi sudah bertanggung jawab dengan adiknya.

"Sekarang kamu ngapain di sini?,".

"Aku nggak mau pulang, Om. Aku nggak tega melihat wajah adikku sedih,
kalau dia tahu uang itu dirampas sama preman-preman."

Lelaki itu terdiam. Dia menatap jam yang melilit pergelangan tangan
kirinya. Ah, masih ada waktu, pikirnya.

"Kamu mau kalau Om belikan sepatu baru untuk adikmu itu?"

Niko menatap dengan mata berbinar. Tetapi sebentar saja. Niko jadi
berpikir, baik sekali orang ini? Pasti ada maunya.

"Om serius?"

"Tentu saja. Sebagai ucapan terima kasih, Om, karena kamu sudah
memberitahukan hape Om yang terjatuh tadi."

Niko diam sambil menatap lelaki itu. Sepertinya dia orang baik-baik, pikir Niko.

"Ayo!" lelaki itu mengajaknya lagi.

Niko mengangguk. Setelah memasukkan kantongan plastik yang ditenteng
lelaki itu ke dalam mobil, mereka berjalan di jajaran toko-toko itu.
Mereka masuk ke dalam sebuah toko sepatu.

"Berapa usia adikmu?"

"Enam tahun, Om. Perempuan."

"Kalau begitu, silakan pilih sendiri. Kamu pasti lebih tahu ukurannya."

Niko menatap sepatu-sepatu yang dipajang pada etalase. Dia tertarik
dengan sebuah sepatu berwarna hitam, sepertinya sepatu itu pas untuk
Tasya. Niko "menelan ludah" sendiri ketika melihat harga yang menempel
pada sepatu itu. Aduh, mahal sekali.

"Kamu mau sepatu itu?" tanya lelaki itu.

"Mahal, Om. Yang lain saja."

"Mbak, tolong bungkuskan sepatu itu," kata lelaki itu kepada pelayan.

"Tapi, Om."

"Nggak apa-apa. Sepatu itu nggak mahal, kok. Masih harga normal."

"Terima kasih, Om!"

"Sekarang, pilih sepatu untukmu sendiri."

Niko terkaget mendengar ucapan lelaki itu. Baik sekali dia. Dia
belikan sepatu untuk Tasya saja, Niko sudah senang luar biasa,
sekarang ditawari sepatu untuknya juga.

"Kebetulan Om baru dapat rezeki, jadi nggak apa-apalah kalo rezeki itu
Om bagi juga sama kamu."

Niko tersenyum senang. Matanya berbinar-binar menatap sepatu yang
dipajang itu. Semua bagus menurutnya. Setidaknya bila dibandingkan
sepatunya yang sudah berlubang di rumah.

Ah, hanya gara-gara memberitahukan hape yang terjatuh, aku mendapat
rezeki seperti durian runtuh. Ternyata memang enak berbuat kebaikan,
pikir Niko dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar