Selasa, 29 Desember 2009
cerpen
Cerpen
Roti Risman
Risman setiap istirahat selalu membagikan kue kepada teman-temannya. Yang sering diberikan Risman ialah roti bakar. Setiap kali Risman membuka kotak kuenya, sekitar enam hingga delapan anak mendekatinya. Ada yang memang dipanggil Risman, tetapi ada pula yang cuma ikut-ikutan saja meskipun tidak diajak.
Bimo tidak terbiasa dengan kebiasaan sebagian teman-temannya itu. Nasihat ibunya di rumah, selalu ia ingat dengan baik. Kata ibunya, jangan pernah mengambil yang bukan haknya atau menikmati makanan atau benda yang tidak pernah diberikan si empunya.
Bimo juga sebenarnya kepengin ikut makan roti Risman yang lezat itu. Apalagi setiap melirik teman-temannya yang makan roti itu, air liur Bimo sering keluar masuk tenggorokan.
Bimo bukanlah anak yang suka iri terhadap orang lain, apalagi sekadar roti bakar. Tapi entah kenapa setiap melihat teman-temannya mengerubungi Risman dan meminta sepotong rotinya, Bimo selalu ingin mengambil sepotong makanan enak itu.
Mungkin karena di rumah, Bimo tidak pernah menikmati roti seperti itu. Di rumah ia memang tidak kelaparan karena emak dan bapak selalu punya uang untuk mencukupi kehidupan keluarga mereka. Bimo dan dua adik dan seorang kakaknya, tidak pernah kekurangan meski mereka hidup sangat sederhana. Seingat Bimo, makanan mewah yang pernah ia makan hanya martabak bangka yang pernah dibawa pamannya sewaktu mengunjungi mereka.
Hari ini tugas menggambar harus selesai. Ibu guru Ani masih memberikan kesempatan selama satu jam kepada anak-anak yang belum menyelesaikan tugas menggambarnya. Semua anak sibuk menyelesaikan tugas itu. Risman, Lukman, dan hampir semua siswa mulai mengeluarkan buku gambar dan krayon serta pensil berwarna.
"Aduh, krayonku ketinggalan," seru Risman.
"Kenapa Risman?" tanya Ibu Ani.
"Krayon saya tertinggal di rumah, Bu."
"Siapa yang punya krayon atau pensil berwarna, tolong pinjami Risman," kata Ibu Ani.
Namun, hampir tidak ada yang melihat ke arah Risman. Termasuk teman-teman yang setiap jam istirahat meminta sepotong kuenya Risman.
Risman terlihat tidak tenang. Ia sudah mau menangis. Matanya sudah merah. Ia takut. Ia malu karena khawatir tidak bisa menyelesaikan tugas menggambarnya.
Tiba-tiba....
"Pakai punyaku saja. Aku sudah selesai," kata Bimo.
Bimo bangkit dari tempat duduknya. Dengan membawa krayon yang setiap warna panjangnya tinggal setengah, Bimo menuju bangku Risman.
"Kamu?" tanya Risman.
"Tugasku sudah selesai. Pakai saja krayonku. Enggak apa-apa kok," jawab Bimo.
Bimo kemudian duduk di mejanya. Tugas menggambarnya sudah diserahkan kepada Ibu Ani.
Risman menyelesaikan tugasnya sampai bel tanda pulang sekolah berbunyi.
Risman sengaja menunggu Bimo di muka kelas. Ia akan mengajak Bimo pulang bareng. Ia berniat mengajak Bimo ke rumahnya. Risman terkesan betul dengan Bimo. Bimo yang pemalu, pendiam, dan tidak pernah meminta roti yang dibawanya itu ternyata murah hati. Di saat teman yang lain, yang sering meminta roti kepadanya, tidak ada yang mau meminjamkan alat menggambar, Bimo tampil sebagai dewa penolong.
"Bim, ini krayonmu. Makasih ya. Kalo kamu enggak keberatan, aku pengen ngajak kamu ke rumahku. Mau ya?" pinta Risman.
Bimo mengangguk sambil senyum.
Mereka kemudian naik mobil jemputan milik Risman. Sebuah mobil Kijang yang bagus. Memang tidak baru, tetapi masih bagus. Joknya masih kelihatan baru. Cat mobilnya juga cerah. Dan yang lebih penting AC mobilnya dingin.
"Bim, kenapa sih kamu tidak mau dekat dengan aku," tanya Risman.
"Ah, enggak apa-apa kok. Cuma aku sungkan kalau seperti teman-teman yang lain meminta makanan yang kamu bawa. Lagian kamu juga enggak pernah nawarin aku," kata Bimo.
"Ya deh, aku minta maaf. Kamunya sih yang pemalu. Pendiam. Jadinya bingung gimana cara nawarin makanan yang aku bawa."
Setibanya di rumah, Bimo disambut ibunya Risman. Ibunya Risman baik banget. Apalagi waktu Risman cerita soal kebaikan Bimo.
"Kamu selalu bawa makanan banyak untuk apa?"
"Ya untuk aku dan teman-teman. Daripada jajan di luar, ibu selalu siapkan kue dan roti. Kamu enggak tahu ya, ibuku kan jualan roti dan kue-kue."
Risman kemudian masuk dan kembali ke meja makan dengan membawa sepiring penuh roti bakar.
Setelah dipersilakan, Bimo mengambil sepotong. Ia memasukkan roti ke dalam mulutnya. Hmmm, enak banget. Cokelat dalam roti lumer begitu Bimo menggigitnya. Sedap sekali. Mata Bimo sampai terpejam. Mungkin saking menikmati kelezatan roti buatan ibunya Risman. Risman tertawa terpingkal-pingkal melihat Bimo demikian menghayati setiap suapan roti yang masuk mulutnya.
Puas benar Bimo hari ini. Sudah berbuat baik, kini ia dihadiahi roti yang enak. Plus sekotak penuh roti untuk kakak dan adiknya di rumah pemberian ibunya Risman.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar