Senin, 28 Desember 2009

percikan


Percikan
KAMAR ANISA
“Biar nggak capek, apa dulu ya yang harus kulakukan?” pikir Anisa. Anisa mengamati buku-bukunya. Hm, mungkin dari buku dulu.
“Aduh, kalau dari buku dulu pasti nanti langsung capek. Bukunya banyak.” kata Anisa dalam hati.
“Dari mainan dulu saja, ya,” Anisa memutuskan. Pintu diketuk lalu Mama masuk. Mata Mama melotot melihat Anisa belum mulai membereskan kamarnya.
“Sudah satu jam kamu di kamar, mama kira kamu lagi beres-beres kamar,” seru Mama menggelengkan kepalanya.
Anisa diancam mama, dia akan dipindah ke kamar dekat gudang jika kamarnya selalu berantakan. Tapi melihat buku yang berantakan di meja dan karpet, mainan yang bergeletakan sampai ke kolong tempat tidur, ditambah beberapa baju yang menggantung sembarangan, Anisa merasa berat untuk mulai bekerja. Ia keburu capek duluan.
“Hm, Mama juga mau menyampaikan pesan dari Johan di telepon tadi. Katanya Johan dan teman-temanmu mau main ke sini sejam lagi,” kata Mama.
“Haha? Kok mendadak?” keluh Anisa.
“Ya, namanya hari libur. Makanya jangan biarkan kamar kamu acak-acakan. Kan malu kalau sampai ada teman kamu yang lihat,” tegur Mama.
“Hm, bisa nggak ya dibatalin?” tanya Anisa.
“Jangan. Lagian mama lagi bikin puding.”
Mama kemudian pergi. Dia langsung mengerjakan tugasnya. Mulai dari buku, mainan sampai pakaian. Semua dikerjakan dengan cepat. Ternyata tidak sampai satu jam. Tepat pukul sebelas, Irfan dan rombongan datang.
“Kamu ngundang kita makan-makan puding kok mendadak?” tanya Alika.
“Jadi ....”
“Iya. Mama kamu yang bilang di telepon sejam lalu. Katanya minta aku dan teman-teman main ke sini pukul sebelas. Katanya, kamu mau ngajak makan puding,” tambah Irfan.
Anisa ingin protes pada Mama. Tapi ... sebelum sempat protes Mama sudah mengerlingkan matanya.
“Kalau tidak begini, sampai lebaran pun kamu tidak akan membereskan kamarmu,” kata mama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar