DUA PENCURI
Malam itu langit tak secerah biasanya. Bintang-bintang bersembunyi
entah di mana. Ludi berjalan cepat-cepat karena ingin segera istirahat
setibanya di rumah.Matanya sudah mengantuk, tetapi ia harus berjalan
kira-kira dua kilometer lagi. Perjalanannya harus ditempuhnya melewati
hutan kecil. Ludi baru saja menghadiri kenduri sahabatnya di desa
seberang.
Akhirnya sampai jualah Ludi di desanya. Beberapa langkah sebelum
memasuki pekarangan rumahnya, Ludi tertegun. Seseorang sedang
mengamati rumahnya. Gerak-geriknya amat mencurigakan. Ludi pun
bersembunyi di balik pohon. Dengan mengendap-endap, Ludi berusaha
mendekati rumahnya untuk memastikan wajah orang yang mencurigakan itu.
Laki-laki yang berwajah tampan, kurus, dan tidak terlalu tua itu
tiba-tiba menangis. Diusap-usapnya air matanya dengan punggung
tangannya.
"Ya, Tuhan, aku sungguh tak ingin melakukan perbuatan yang nista ini,
tetapi apa boleh buat..." kata laki-laki itu dengan lirih. Suasana
yang amat hening membuat pendengaran Ludi menjadi lebih tajam. la
mendengar kata-kata dari laki-laki tersebut. Keinginan memberi tahu
peronda mengenai laki-¬laki yang mencurigakan di rumahnya akhirnya
diurungkan. Laki-laki itu kembali menangis. Ludi pun mengerti,
laki-laki itu berniat mencuri barang miliknya di dalam rumah untuk
keperluan yang mendesak. Mungkin laki-laki itu tak mempunyai pilihan
lain. Ludi merasa kasihan.
"Hai, kau mau membongkar jendela rumah ya?" taya Ludi. Laki-laki itu
terkejut dengan kehadiran Ludi yang tiba-tiba.
"Jangan khawatir. Aku adalah temanmu. Kebetulan penghuninya sedang
pergi. Ayo kita masuk ke dalam bersama-sama," lanjut Ludi.
"Ba.. bagaimana kau tahu rumah ini tak berpenghuni?" tanya laki-laki itu gugup.
"Aku memergokinya di jalan tadi. Ia baru saja pergi. Kita harus kerja
cepat sebelum penghuninya kembali," jelas Ludi. Laki-laki itu menuruti
kata-kata Ludi. Mereka merusak jendela rumah Ludi.
"A.. apakah ka.. kau sering melakukan hal ini?" tanya laki-laki itu
setelah memperoleh uang bagiannya yang berasal dari lemari Ludi.
"Sering!" jawab Ludi. "Kau?.."
"Baru sekali ini. Aku merasa gugup sekah dan merasa amat berdosa,"
jawab laki-laki itu. "Pasti ada penyebabnya." tebak Ludi.
"Ya. Ibuku sakit keras. Hidupku sendiri pas¬pasan bersama anak dan
istriku. Aku meminjam uang kepada rentenir untuk biaya kesembuhan
ibuku, tetapi uangnya habis di meja judi sebelum ibuku berobat,"
sambung laki-laki itu. .
"Kau berjudi?" tanya Ludi heran. "Istriku. la senang main judi. Ketika
itu kemenangan demi kemenangan disabetnya. Tetapi sial, judi terakhir
ia kalah, padahal istriku yakin akan menang lagi sehingga dapat
membayar hutangku pada rentenir itu beserta bunganya," laki-laki itu
menghentikan ceritanya dan mulai menangis sedih.
, "Sudahlah, sekarang pulanglah mumpung pemilik rumah ini belum
datang. Mudah-mudahan ibumu segera sembuh," kata Ludi. "Oya, bolehkah
kapan-kapan aku menengok ibumu?"
"Tentu saja boleh! Aku pulang dulu. Kenapa kau masih di situ? Tidakkah
kau juga ingin segera pulang?" tanya Pak Sarot, nama laki-laki itu.
"Sebentar aku mau menghitung uang ini. Pulanglah kau dulu, jangan
khawatirkan aku," tukas Ludi. Pak Sarot pun menurut, la segera melesat
dan menghilang di kegelapan malam. Ludi segera memperbaiki jendelanya
dan berniat untuk tidak membicarakan hal yang baru saja terjadi pada
siapa pun.
Malam itu Ludi terus memikirkan Pak Sarot. Alangkah malangnya
laki-laki itu. Untung saja Ludi tidak segera memberitahu peronda,
kalau tidak, tentulah nasib Pak Sarot lebih buruk lagi.
Paginya Ludi bangunnya agak kesiangan. Tetapi, dia harus tetap pergi
ke pasar, menjaga kiosnya yang berisi barang dagangan kebutuhan
sehari-hari. Setiap hari ada saja yang belanja di kiosnya sampai
siang. Sesudah itu kios pun ditutup. Biasanya Ludi pulang, memasak,
dan beristirahat. Tetapi kali ini ada rencana lain di benak Ludi. la
ingin mencari pencaharian lebih seusai menjaga kiosnya. Uangnya akan
diberikan pada Pak Sarot agar Pak Sarot tidak terlalu lama dililit
hutang.
Mula-mula Ludi membantu mengecat rumah Pak Ahmad, tetangganya.
Kemudian ikut melaut, mencari ikan bersama Pak Sudin, bahkan ikut
membantu di dapur Bu Parjo waktu Beliau mengadakan se!amatan kelahiran
cucu pertamanya. Apa saja Ludi mau mengerjakannya asal ia mendapat
upah. Sesudah lumayan jumlah uang yang terkumpul, Ludi pun pergi ke
rumah Pak Sarot. Pak Sarot merasa gembira bisa bertemu dengan Ludi
kembali.
"Aku lupa menanyakan rumahmu tempo hari, jadi tak tahu harus mencarimu
ke mana untuk mengucapkan terima kasihku. Ibuku sudah sembuh. Istriku
pun sudah tidak pernah main judi lagi. Kini mereka sedang diladang,"
sambut Pal Sarot.
"Jadi mereka di ladang! Bapak sendiri di rumah. Apa yang Bapak
kerjakan di rumah?" tanya Ludi.
"Aku sedang tidak enak bMan dari kemarin. Sebenarnya tidak enak juga
membiarkan istri d ibuku bekerja di ladang. Tetapi kami harus
bagaimana lagi, kami harus membayar bunga hutangku pada rentenir,"
jawab Pak Sarot, "Hutang yang dulu itu belum lunas, jadi kami harus
membayar bunganya tiap bulan."
Ludi merogoh dompetnya dan mengangsurk beberapa lembar uang pada Pak Sarot.
"tni buat Pak Sarot. Terimalah. Mudah¬mudahan hutang Bapak jadi
berkurang ..." Pak Sarot membelalakkan matanya. "Tidak ... tidak ...,"
katanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tak mai membuat
kesalahan lagi. Aku tak mau menerirr uang haram darimu ...."
"Siapa bilang ini uang haram," tukas Ludi. "A memperolehnya dengan
kerja keras. Aku tak pernah mengotori hidupku dengan cara nista untuk
memperoleh uang haram."
"Tapi ... kau sering mencuri barang orang laii Itu kan katamu dulu!
Kita memasuki rumah orai meskipun aku begitu gugup. Sedang kau ... kat
tenang-tenang saja karena kau sudah biasa melakukan perbuatan buruk
seperti itu," tuduh Pak Sarot.
"Kenapa aku meski gugup membongkar rumahku sendiri?" tanya Ludi sambil
tersenyun Ludi pun menceritakan hal yang sebenarnya kepada Pak Sarot.
Perlahan-lahan wajah Pak Sarot memucat. "Ja.. jadi kau kemari hendak
menangkapku' tanya Pak Sarot ketakutan. '
"Tentu saja tidak. Aku justru hendak menolc Bapak. Kalau aku berniat
menangkap Bapak, waktu Pak Sarot membongkar rumahkulah saatnya yang
tepat," sahut Ludi.
"Ma.. maafkan kesalahanku padamu, Ludi. hampir tak percaya di dunia
ini masih ada orai sebaik dirimu," tukas Pak Sarot.
"Berterima kasihlah pada Tuhan, Pak. Say, hanya sebagai perantara
saja," jawab Ludi sa tersenyum.
Kamis, 31 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar